Selamat Datang

Alhamdulillah, blog ini masih dapat dimanfaatkan untuk melengkapi kekurangan fasilitas website http://syaifuddin-mr.com/
Blog ini digunakan untuk memperpanjang pertemuan kuliah yang dibatasi tempat dan waktu. Semoga bermanfaat.

Syaifuddin

18 Maret 2020

Hubungan Psikologi dengan Sosiologi, pedagogik, dan Agama (Kelompok 6)

Dosen, Syaifuddin, Kelas B dan C, 196911291994031003.

Pada kuliah "kelompok 6 ini" kita akan membahas Psikologi dengan Sosiologi, pedagogik, dan Agama. Beberapa bahasan meliputi: hubungan psikologi dengan sosiologi; hubungan psikologi dengan pedagogik; dan hubungan psikologi dengan agama.
Pada diskusi kali inipun diharapkan saudara/i berdiskusi secara online tentang topik di atas tanpa harus terlalu memposisikan diri sebagai pemakalah atas peserta diskusi. Harapan saya bagi pemakalah hendaknya memantau diskusi dan/atau komentar dalam topik ini.
Diharapkan saudara saling berbagi tentang topik di atas. Makalah dapat di share oleh pemakalah di grup WA, karena forum ini hanya sebagai kepanjangan pertemuan dengan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Sebelum menyampaikan pendapat saudara/i dapat mencantumkan identitas seperti yang saya contohkan di atas dengan format "Pemakalah/Peserta, Nama, Kelas, Nim".

Selamat berdiskusi !

41 komentar:

  1. Assalamualaikum wr. wb. Kami dari kelompok enam akan mempresentasikan hasil kami dengan judul Hubungan Psikologi dengan Sosiologi, Pedagogik, dan Agama. Adapun anggota kami adalah sebagai berikut :
    Dewi Sinta (D01219018)
    Fina Arrizka Ayuningtyas (D91219113)
    Zulham Alimuddin (D91219160)

    BalasHapus
  2. A. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
    Psikologi dengan sosiologi mempunyai analisis kemasyarakatan yakni menggunakan faktor-faktor secara luas untuk menjelaskan perilaku sosial. Keduanya sama-sama mempelajari mengenai hubungan antar manusia atau interaksi sosialnya, namun ada hal yang membedakannya. Salah satu pembeda antara sosiologi dan psikologi adalah tinjauan ruang lingkup pembahasannya. Tinjauan psikologi adalah tingkah laku itu didorong oleh suatu motif tertentu hingga manusia itu berlaku atau berbuat, sedangkan tinjauan sosiologi adalah bagaimana manusia hidup bermasyarakat. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa psikologi berfokus pada tiap-tiap individunya, sedangkan sosiologi berfokus pada kelompok atau masyarakatnya.
    Adanya kesamaan tersebut membuahkan sebuah titik temu antara psikologi dan sosiologi, yakni psikologi sosial. Psikologi sosial merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi sosial. Psikologi sosial dikenal memiliki dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia. Jika psikologi dan sosiologi digambarkan sebagai dua buah lingkaran yang saling berpotongan, maka psikologi sosial merupakan luasan tempat tumpeng tindih antar keduanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Seberapa penting hub. Psikologi dg sosiologi dan sebutkan dampaknya.

      Hapus
  3. B. Hubungan Psikologi dengan Pedagogi
    Dalam posisinya sebagai salah satu ilmu pengetahuan tentu saja dalam memperoleh ilmunya, psikologi selalu berlandaskan pada kebenaran atau bersifat objektif. Begitu juga dengan pendidikan, semua prosesnya dalam mencari ilmu pengetaahuan berdasarkan pada asa kebenaran atau objektifitas. Sehingga dengan adnaya persamaan itu, maka psikologi dengan pendidikan ini berhubungan. Disisi lain, pendidikan ini memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Manusia membutuhkan pendidikan dalam hidupnya untuk menambah ilmu yang dimilikinya, sehingga psikologi ini diperlukaan oleh manusia tersebut. Tujuannya adalah agar dalam menempuh pendidikan itu, manusia memperoleh kemudahan dalam menjaaninya dan mudah diikuti. Sebab psikologi ini akan berperan pada pengaruh intern pada diri manusia itu.
    Dari uraian diatas sudah dapat diketahui hubungan keduanya. Selain itu, dua hal tersebut juga memiliki hubungan timbal balik. Dalam pendidikan bertujuan untuk menuntun atau mendidik manusia semenjak kelahirannya hingga nanti dia menemui kematiannya. Pada proses pendidikan tersebut, jika tidak disertai dengan adanya ilmu psikologi, maka sasaran atau tujuan pendidikan tersebut tidak akan terpenuhi dengan baik. Sebab dalam proses tersebut, harus diperhatikan juga aspek kejiwaan dari diri manusianya. Ini lebih ditekankan pada peran seorang pendidik, dimana para pendidik ini juga harus mengetahui kondisi dari peserta didiknya seperti, watak, perilaku, kebiasaan, dan perasaan yang sedang terjadi pada muridnya. Jika hal diatas dapat dipenuhi mengenai keterlibatannya, maka tujuan dari pendidikan akan tercapai.
    Dengan adaya hubungan anatara psikologi dan pedagogi atau penddikan itu, kemudian muncul sebuah disiplin ilmu baru dalam psikologi. Disiplin ilmu baru itu adalah psikologi pendidikan atau educational psycology. Pada hakikatnya, psikologi pendidikan ini sama seperti halnya yang dijelaskan diatas, yaitu mengenai timbal balik antar keduanya. Adanya psikologi pendidikan ini digunakan untuk penyelidikan dari peran psikologi terhadap kondisi psikologis pada dunia pendidikan. Dari penyelidikan tersebut kemudian mucul atau dihasilkan teori-teori, konsep, dan metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada kaitannya dengan proses belajar mengajar.

    BalasHapus
  4. C. Hubungan Psikologi dengan Agama
    Psikologi dengan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Agama diturunkan ke Bumi ini yang disampaikan oleh Rasul kepada umatnya adalah tanpa paksaan, tanpa dasar psikologis, agama itu akan sukar diterima manusia. Ajaran agama penuh dengan unsur-unsur pedagogis. Tentu saja unsur pedagogis dalam agama tidak akan mampu mempengaruhi manusia tanpa memperhatikan unsur kejiwaan manusia.
    Sehubungan dengan hal itu maka muncullah cabang psikologi yang dinamakan Psikiologi Agama yang membahas antara lain perkembangan kepercayaan manusia terhadap Tuhan dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan apabila terjadi kemantapan hidup beragama bagi seseorang.

    Sampai disini presentasi kami. Mungkin ada yang mau ditanyakan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahyu Nur Wahid (D71219087) Dari Kelas C
      Mohon izin bertanya. Adakah cara atau system yang harus digunakan dalam meninjau atau mengkaji objek pembahasan psikologi maupun sosiologi ini? Mengingat kata "masyarakat" ini mencakup hal yang luas

      Hapus
  5. Pemakalah, Zulham Alimuddin, B , D91219160

    Monggo teman teman silahkan aktif pada sesi diskusi kali ini. Tidak hanya harus bertanya saja, teman teman peserta diskusi juga bisa ikut menambahkan jawaban

    BalasHapus
  6. Ravita Insani, B, D91219147

    Mohon izin bertanya, maksud dari pedagogis itu seperti apa dan apa saja unsur-unsur pedagogis itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemakalah, Zulham Alimuddin, B, D91219160

      Pedagogis adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani "pedagogie" yang berarti bimbingan terhadap anak. Nah dalam kegiatan sehari-hari ini biasa kita kenal dengan sebutan pendidikan. Sedangkan pendidikan sendiri adalah sebuah proses atau usaha yang didalamnya ada metode yang digunakan seseorang untuk bisa mengerti atau tersampaikannya ilmu pengetahuan. Sedangkan unsur-unsur nya ada 4 yaitu, pengelolaan pembelajaran, pengembangan strategi pembelajaran, pengembangan diri secara berkelanjutan, dan pemanfaatan dan refleksi terhadap hasil kerja.

      Hapus
    2. Tri Wasesa Aulia Sakti, D91219154, Kelas C.

      Mohon izin menambah jawaban.
      Pedagogik, berasal dari kata Yunani “ paedos “, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos“ artinya mengantar, membimbing. Pedagogik adalah ilmu yang mengkaji bagaimana membimbing anak, bagaimana sebaiknya pendidik berhadapan dengan anak didik, apa tugas pendidik dalam mendidik anak, apa yang menjadi tujuan mendidik anak. 
      Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya tentang hakikat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan.

      Hapus
  7. Saya A Yulian Syamsudl Dluha (D91219090) mau bertanya. Apa kontribusi pendekatan agama dengan kesehatan mental?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemakalah, Zulham Alimuddin, B, D91219160

      Kontribusi pendekatan agama dengan kesehatan mental

      Gini kesehatan mental ini berhubungan langsung dg psikologi nahh maksud dari kesehatan mental itu sendiri ialah cara berpikir kita yg jernih dimana saat mental kita tidak sehat artinya yg muncul ialah pemikiran yg negatif yg mengganggu psikologi diri lalu pendekatan agama dimana psikologi dg agama harus seimbang karna keduanya saling berperan penting jika pendekatan agama kita baik otomatis psikologi kita juga baik oleh karena itu disitulah kontribusi antara pendekatan agama dg kesehatan mental . Dimana pendekatan agama yg baik maka akan menghasilkan kesehatan mental yg baik atau positih juga .

      (Dewi Sinta, B, D01219018)

      Hapus
    2. Laily RosyidahRabu, 22 April, 2020

      Saya Laily Rosyidah, B, D01219028 ingin menambahkan jawaban, menurut saya Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman dan tenteram. Hubungan jiwa dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang seruapa itu diduga akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif, seperti rasa bahagia, rasa sengang, puas, sukses, merasa dicintai, atau rasa aman. Dengan kata lain, kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadiannya, sehat jasmani dan ruhani.��

      Hapus
  8. Mohon izin bertanya.
    Saya wede amelsadewi adelia D71219088.

    1. Seberapa penting hub. Psikologi dg sosiologi dan sebutkan dampaknya.!

    (Mohon maaf. Sebelumnya sudah bertanya tapi tidak ada namanya.) 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemateri, Fina Arrizka A (D91219113), B

      Psikologi dan Sosiologi sama-sama membahas tentang manusia. namun, yang membedakannya adalah pembahasan lingkupnya. Sosiologi membahas seputar tentang kejiwaan atau mental tiap individunya. Sedangkan sosiologi, membahas mengenai bagaiman individu berinteraksi dengan individu lainnya atau kelompok. Dampak dari hubungan tersebut adalah adanya disiplin ilmu baru, yakni Psikologi Sosial.

      Hapus
    2. Peserta, Anggi NP. (D91219100) Kelas C.
      Izin menambah saja, hubungan antar keduanya ya saling berkegantungan. ilmu sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan manusia satu dengan manusia lainnya (berinteraksi) sedangan psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat psikis yang ada pada seseorang. Misalnya : kamu dan saya saling membentuk ikatan pertemanan, lalu kita telah berinteraksi satu sama lain sebagai mahluk sosial. Nah, bagaimana kamu berinteraksi inilah yg akan dibahas scr mendalam dlm ilmu sosiologi. Dan ketika kamu selama berteman dgn saya merasakan suatu kebencian sehingga menimbulkan ketidaknyamanan psikis dalam pertemanan (berhubungan antar sesama manusia), maka perlu didalami dan dicari tau penyebab dlm pribadimu dengan ilmu psikologi. Intinya, mereka berdua adalah disiplin ilmu yg fokus pada manusia dan sekitarnya.

      Dengan adanya hubungan yg saling berkegantungan tersebut, dampaknya yaitu
      1. Adanya cabang ilmu baru, seperti yg telah pemateri sampaikan yakni psikologi sosial. Psikologi sosial sendiri adalah cabang ilmu psikologi yg mengkaji perilaku tiap individu dlm situasi sosial.
      2. Dgn adanya hub antar kedua ilmu ini, membantu menentukan strategi konselling / terapi sosial yg lebih tepat untuk tiap individu.
      3. Membantu mencari tahu bagaimana cara / pendekatan yg pas agar interaksi antar manusia berjalan baik dgn memahami diri sendiri dan mencoba memahami tingkah laku org lain.

      Afwan kalau ada kekurangan. Syukron.

      Hapus
  9. Saya wede amelsa mau bertanya lagi.

    Kan setelah ini kita menyambut Romadhon.. Mungkin beberapa orang merasakan Kalo h- beberapa menuju romodhon, katakanlah h-10 itu nafsu makan itu bertambah gituu..pengen jajan, pengen makan ini, makan itu. Tetapi disaat H-2/3 romadhon itu udah kayak ndak nafsu makan. Pertanyaan nya, apakah ini termasuk hubungan psikologi dengan agama (yg bersangkutan dg puasa),jika termasuk itu kenapa? Mohon dijelaskan! 🙏
    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemateri, Fina Arrizka A. (D91219113)

      Disini saya akan meluruskan dulu maksud dari psikologi agama yaitu Psikologi agama pada hakikatnya lebih mengkaji kepada aspek-aspek perilaku kejiwaan manusia, dimana manusia tesebut memiliki masalah pada keagamaannya, sedangkan psikologi lainnya menjelaskan pada aspek jiwa dan kepribadian, belum membahas untuk masalah ke agama yang dianutnya. Dalam kalimat tersebut sudah jelas bahwa psikologi agama mengkaji individu yang memiliki masalah pada keagamaannya. Dari contoh yang anda berikan dapat kita jelaskan bahwa bertambah atau berkurangnya nafsu makan itu dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, misalnya stress, kondisi badan, obat-obatan, cuaca/iklim dan lainnya. Sangat jelas sekali bahwa dari faktor-faktor yang mempengaruhinya tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Oleh karena itu, contoh diatas bukan merupakan psikologi agama.

      Hapus
  10. Saya Nurul inayati D71219079 izin bertanya..
    Dalam makalah di jelaskan terkait bahwa terapi agama dalam perspektif psikologi agama sejalan dengan konsep kesehatan mental dalam penyembuhan gangguan jiwa. Dari pemakalah tolong jelaskan lagi lebih detail terkait argumen tersebut dan sertakan contohnya
    Trima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemateri, Fina Arrizka A (D91219113), B

      Agama tidak hanya membicarakan segala sesuatu yang berkenaan dengan hal-hal yang gaib, misalnya, sorga, neraka, dosa, pahala, maut, roh dan sebagainya. Tetapi agama telah memasuki seluruh lapangan kehidupan. Mahmud Yusuf mengutip pendapat Norman Vincent Peale mengatakan bahwa Agama yang dimaksud Norman adalah agama yang dapat memberikan rasa keimanan dan rasa keyakinan kepada individu untuk pasrah dan memohon pertolongan kepada Tuhan dari segala hal yang tidak menyenangkan dan dari masalah- masalah kehidupan yang dihadapinya.
      Problematika kejiwaan yang melanda masyarakat modern turut pula merubah nilai-nilai keagamaan, sehingga hubungan antara tradisi keagamaan dengan kebudayaan semakin merenggang, karena nilai-nilai ketaatan manusia dalam beragama semakin memudar. Terapi agama merupakan upaya-upaya yang dilakukan manusia untuk penyembuhan jiwa melalui ajaran-ajaran agama. Terapi agama adalah sejenis perawatan dan penyembuhan penyakit dengan menggunakan metode psikologi yang dipadukan dengan ajaran agama terhadap permasalah-permasalah yang bersumber dari kehidupan emosional untuk dikembalikan kepada kesehatan dan keseimbangan jiwa seseorang. Dalam ilmu kesehatan bentuk pengobatan ada dua macam, yaitu somoterapi dan psikoterapi. Somototerapi merupakan pengobatan secara fisik berupa obat-obatan dan sejenisnya . Sedangkan psikoterapi adalah pengobatan yang tidak mengutamakan pada bagian badan yang sakit atau anggota organik yang terganggu, namun lebih di utamakan pada kejiwaannya (mental emosional) dengan menggunakan metode psikologi. Terapi bentuk terkhir ini menjadi sasaran psikoterapi sebagai solusi agama terhadap problematika kejiwaan manusia
      Relevansi antara terapi agama dalam perspektif psikologi agama dengan konsep kesehatan mental dalam penyembuhan gangguan jiwa (neurose) atau gejala-gejala penyakit jiwa (psychose) adalah mewujudkan keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara sesama manusia dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dalam masyarakat. Agama sebagai dasar pembinaan kesehatan mental dimana orang-orang yang menganut agama dan mengaplikasikan konsep ajaran agamanya dalam kehidupan masyarakat serta menjadikannya sebagai sumber dalam kehidupan mereka. Terapi Agama mengatasi problematika psikis manusia sebagai kerangka acuan yang dipergunakan dalam membina, memberdayakan atau pengembangan psikis individu dengan mengacu kepada kitab suci dan aspek-aspek kejiwaan manusia.

      Hapus
  11. Saya Azril Ramadhan D91219103 izin bertanya, jika psikologi berhubungan dengan agama yang membahas kejiwaan/rohani.pertanyaan saya adalah bagaimana pandangan psikologi tentang "jadzab"?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Laily RosyidahRabu, 22 April, 2020

      Saya Laily Rosyidah,B, D01219028 ingin menambahkan jawaban, menurut saya pengertian secara umum dari kata Jadzab sendiri berasal dari bahasa arab yaitu jadzaba yang berarti menarik, memikat, menawan hati. Jadi secara umum orang yang diberi label Jadzab adalah orang yang bertingkah laku yang memikat orang lain, menarik perhatian orang lain sehingga orang lainpun beranggapan bahwa dia adalah orang yang istimewa. Contohnya jadzab dari sisi Psikologi khususnya Psikologi Abnormal seperti di pesantren ada santri yang bertingkah nyeleneh, slintat slintut, berbeda dengan teman sebayanya, bertingkah diluar kewajaran atau tanpa aturan Label Jadzab tersebut kebanyakan melekat pada putra kyai atau pengasuh pesantren ataupun kepada santri-santri yang memiliki keistimewa dalam pemikiran keilmuan.

      Hapus
    3. Pemateri, Fina Arrizka A (D91219113), B

      Menurut sepengetahuan saya, jadzab merupakan perilaku yang berbeda dengan manusia pada umumnya yang sebenarnya hal tersebut bertujuan agar menyamarkan kewaliannya. Sedangkan psikologi itu mengkaji tentang mental dan kejiwaannya. Jadzab bukan dipengaruhi oleh keterbelakangan mental atau terganggu kejiwaannya. Jadi menurut saya tidak ada sangkut pautnya.

      Hapus
    4. Peserta, Rachmad H, Kelas C, D91219145
      akan mencoba menjawab,
      Setau saya, jika perilaku jadzab yg anda mksud adalah perilaku salah satu maqam kewalian (dlm ajaran ahlussunnah waljama'ah, kaum alawiyyin, tarekat, khususnya dalam NU), jjka ditilik dari pandangan psikologi merupakan sesuatu abnormal atau gangguan kejiwaan. Tetapi, hal yg perlu dibedakan adalah masalah timbulnya suatu perbuatan kejiwaan abnormal tsb. Jika masalah kejiwaan pada umumnya disebabkan oleh stress, gangguan syaraf, konflik, dll maka jadzab disebabkan oleh adanya pengalaman spiritual. Jika masalah kejiwaan pada umumnya menyebabkan kesusahan, gelisah, bahkan pada beberapa penyakit jiwa malah membuat rusuh sekitar maka jadzab dapat menjadi petunjuk karena karamah/keramat yg diberikan oleh Allah sehingga dapat memberikan nasihat dan wejangan hidup/agama. Jika masalah kejiwaan pada umumnya dapat kembali kesadarannya dg melalui terapi psikiater dll maka jadzab itu kadang hilang kadang kembali bahkan ada yg tidak kembali sama sekali, disinilah terdapat ajaran jika kita bertemu/menemui wali jadzab jangan minta doa karena apa? Ditakutkan saat dia berdoa ada sesuatu "hal" yg datang sehingga apa yg dia doakan ngelantur dan bisa berakibat buruk pada kita maka lebih baik jika dia (orang jadzab) berdoa hendaknya kita mengaminkan saja karena dia berdoa kdang bukan dri dirinya melainkan melalui sifat nasut Allah yg terpancar dalam dirinya. Wallahua'lam

      Hapus
  12. Pemateri, Fina Arrizka A (D91219113), B

    Kami rasa cukup pertanyaan yg diajukan. Untuk selanjutnya kami meminta waktu diskusi agar pertanyaan dapat terjawab dengan baik. Jika ada sanggahan mengenai jawaban atau uraian diatas silahkan disampaikan. Terima kasih atas perhatian dan waktunya. Maaf bila ada kesalahan. Wassalamualaikum wr. Wb

    BalasHapus
  13. Mohon izin bertanya, saya Mohammad Farid Alfarisi / D91219129 / C.

    Dijelaskan bahwa psikologi sosial merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi sosial (bermasyarakat). Pertanyaannya apakah seseorang yang anti sosial memiliki sebuah kecacatan mental (psikolog) atau itu merupakan kesalahan pribadi? Jelaskan serta sampaikan solusi untuk mengatasi hal tersebut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tri Wasesa Aulia Sakti, kelas C, D91219154.

      Mohon izin menjawab. Gangguan anti sosial atau antisocial disorder merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan ketidakpedulian akan perasaan orang lain dan mengacuhkan perilaku yang benar dan yang tidak benar. Penyebabnya masih belum diketahui, namun gen" atau situasi tertentu dapat memicu gangguan tersebut.
      Situasi" tersebut misalnya:
      1. Melewatkan masa kanak" sengan ditelantarkan atau dieksploitasi.
      2. Berada di keluaega yg memiliki gangguan kepribadian.
      3. Memiliki riwayat gangguan perilaku di masa kecil.
      4. Masa kecilnya berada di lingkungan keluarga yg tidak harmonis atau sering terjadi kekerasan.
      Dari keempat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa individu antisosial memungkinkan timbul dri trauma" gangguan masa kecil yg menyebabkan hilangnya empati pada diri org tersebut.

      Namun perlu diingat, bahwa tidak setiap org yg susah berkomunikasi, terlihat pendiam, atau tidak memiliki banyak teman merupakan pengidap antisosial. Bisa saya personaliti orang tersebut yg memang termasuk introvert sehingga dia lebih nyaman dengan dirinya sendiri dibanding org lain. Org yg introvert cenderung nyaman dengan lingkup orang" terdekat yg walau sedikit jumlahnya tp nyaman. Hal ini sangat bisa dipahami karena memang termasuk personaliti/kepribadian org yg berbeda". Kita tidak bisa memaksakan setiap org untuk menjadi periang atau "social butterfly" seperti apra extrovert. Mungkin orang-orang pendiam yg kerap di salah artikan sebagai "ansos" ini memiliki pertimbangan sendiri dalam berhubungan dengan sesama manusia yg lain.

      Mohon maaf kalah masih banyak yg kurang. Terimakasih.

      Hapus
    2. Jadi jika dipertanyakan antisosial termasum gangguan mental atau kesalahan pribadi. Dari catatan" yg saya temukan, anti sosial merupakan gangguan mental dengan penyebab" yg mungkin menimbulkannya telah sy bahas di komentar sebelumnya.

      Hapus
  14. Ahmad Ja'far Shodiq / D91219092Rabu, 22 April, 2020

    PESERTA - AHMAD JA'FAR SHODIQ (D91219092) Dari Kelas C
    Mohon izin bertanya, Bagaimanakah hubungan psikologi dengan kepribadian & akhlaq manusia? Dan apakah dalam hal ini perlu diterapkan kepada peserta didik kelak? Serta bagaimanakah dampak yang ditimbulkan dalam hal ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Vian Nur Syaifulloh D91219155, kelas C.
      Izin mencoba menjawab,
      Para psikolog memandang sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup. Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.
      Dan hal tersebut harus kita tekankan sejak kecil atau sebagai seorang pendidik kita harus menerapkannya ke peserta didik, karena hal tersebut menjadi pedoman awal agar peserta didik itu mengetauhi mana yang baik dan mana yang buruk, dan bisa tertanam di hati mereka tentang kebaikan sehingga peserta didik bisa menerapkannya ketika di masyarakat dan bisa membentengi diri dari lingkungan sekitar apabila lingkungan sekitar tidak baik.
      Dampak dari segi negatifnya apabila kita tidak menekankan hal tersebut atau menanamkan kebaikan sejak kecil peserta didik itu akan bisa terkontaminasi dengan lingkungan yang kurang baik, lebih-lebih dia bisa masuk ke jalan yang kurang baik sehingga anak itu menjadi kepribadian yang buruk.

      Hapus
  15. Peserta
    MAZIDAH ADELITA SHOFIYANA (D91219123)
    Mohon Izin bertanya...
    Jelaskan perbedaan perspektif struktural makro dan prespektif struktural mikro?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Saya Vian Nur Syaifulloh (D91219155) izin menjawab,
      Perspektif struktural fungsional Dan perspektif konflik sosial itu menggunakan perspektif makro pada masyarakat, sedangkan perspektif interaksionisme simbolik itu menggunakan perspektif mikro.
      Jadi bedanya adalah perspektif makro itu melihat pada lingkup yang lebih luas pada masyarakat di dalam kelompok atau sistem sosial. Sedangkan perspektif mikro menekankan relasi antar individu nya.

      Hapus
  16. Assalamualaikum Wr Wb,
    Kami dari kelompok 6 kelas psikologi C akan memaparkan poin-poin dari makalah kami dengan tema "Hubungan Psikologi dengan Pedagogik, Sosiologi, dan Agama". Sebelumnya kami mohon maaf atas keterlambatan pengiriman materi karena adanya kendala. Terimakasih
    Pemateri
    Tri Wasesa Aulia Sakti (D91219154)
    Vian Nur Syaifulloh (D91219155)
    Khofifah (D91219117)

    BalasHapus
  17. A. Hubungan Psikologi dengan Pedagogik
    Pedagogik sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa, bahkan cirri dan wataknya serta kepribadiannya ditunjukkan oleh psikologi. Dengan demikian, pedagogic baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi. Oleh karena itu sangat eratnya tugas antara keduanya, maka timbul educational psikologi (ilmu jiwa pendidikan).

    BalasHapus

  18. B. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
    Manusia sebagai makhluk social juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Karena itu, baik psikologi maupun sosiologi yang sama-sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik titik pertemuan di dalam meninjau manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup dalam bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kehijawaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Karena danya titik-titik persamaan ini, maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial.

    BalasHapus
  19. C. Hubungan Psikologi dengan Agama
    Di dalam agama terdapat ajaran tentang bagaimana agar manusia mau menerima petunjuk Tuhannya, sehingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa di dalam agama itu penuh dengan unsur-unsur pedagogis yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Unsur pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia kecuali bilamana disampaikan kepadanya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi, dalam hal ini psikologi pendidikan.
    Contoh bahwa psikologi dan agama mempunyai hubungan erat dalam memberikan bimbingan manusia adalah terhadap manusia yang berdosa pada manusia yang melanggar norma tersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahirnya tidak diberikan terhadapnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Wahyu Nur Wahid (D71219087) dari kelas C. Mohon izin bertanya kepada pemateri nggeh. Saya ingin bertanya mengenai pemaparan yang dipaparkan pada point "Hubungan Psikologi dengan Pedagogi". Dipaparkan bahwa, "pedagogic baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi". Nah yang saya tanyakan, langkah² dari pedagogic agar tepat mengenai sasaran ini yang seperti apa maksud dan contohnya. Dan juga "petunjuk psikologi" yang dimaksud itu yang seperti gimana nggeh?

      Mohon maaf jika terdapat salah kata. Matur Nuwun :)

      Hapus
    2. Tri Wasesa Aulia Sakti, kelas C, D91219154.

      Mohon izin menjawab, Dari beberapa sumber yg kami peroleh disebutkan bahwa proses utama belajar mengajar pedagogi adalah siklus yang terdiri atas empat langkah/tahap yaitu :
      1. Penyiapan konteks dan membangun pembelajaran. Pembahasan atau kegiatan yang membantu siswa memaknai konteks yang dipelajari.
      2. Pemodelan dan dekonstruksi. Pada tahap ini dikembangkan kemampuan berpikir kritis melalui membahas serta menjawab pertanyaan.
      3. Konstruksi terbimbing. Siswa berlatih menggunakan semua hal yang telah dipahaminya pada tahap sebelumnya.
      4. Konstruksi mandiri. Siswa diberi kesempatan untuk belajar dengan mandiri tanpa pendampingan guru.

      Untuk melalui tahapan" diatas alangkah baiknya dilakukan dengan pendekatan yg sesuai dengan petunjuk psikologis. Maksud petunjuk psikologis disini adalah pendidik diharapkan menyesuaikan cara belajar pada tiap tahapan sesuai dengan karakter psikologi siswa masing-masing, sehingga pembelajaran bisa efektif. Pendidik diharapkan bisa membangun pembelajaran, membuat pemodelan, melakukan konstruksi terbimbing sesuai dengan pendekatan psikologis yg sesuai dgn siswa.

      Terimakasih dan mohon maaf bila ada kekurangan jawaban.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus