Selamat Datang

Alhamdulillah, blog ini masih dapat dimanfaatkan untuk melengkapi kekurangan fasilitas website http://syaifuddin-mr.com/
Blog ini digunakan untuk memperpanjang pertemuan kuliah yang dibatasi tempat dan waktu. Semoga bermanfaat.

Syaifuddin

18 Maret 2020

Kesetaraan Gender Dalam Pendidikan (Politik-06)

Dosen, Syaifuddin, 196911291994031003.

Pada kuliah "kelompok 6 ini" kita akan membahas Kesetaraan Gender Dalam Pendidikan. Kali ini kita akan membahas kesetaraan gender dalam konteks pendidikan kita saat ini.
Pada diskusi kali inipun diharapkan saudara/i berdiskusi secara online tentang topik di atas tanpa harus terlalu memposisikan diri sebagai pemakalah atas peserta diskusi. Harapan saya bagi pemakalah hendaknya memantau diskusi dan/atau komentar dalam topik ini.
Diharapkan saudara saling berbagi tentang topik di atas. Makalah dapat di share oleh pemakalah di grup WA, karena forum ini hanya sebagai kepanjangan pertemuan dengan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Sebelum menyampaikan pendapat saudara/i dapat mencantumkan identitas seperti yang saya contohkan di atas dengan format "Pemakalah/Peserta, Nama, Nim".

Selamat berdiskusi !

28 komentar:

  1. Nama Kelompok:
    1. Khofifah D91219117
    2. Tri Wasesa Aulia Sakti D91219154
    3. Vian Nur Syaifulloh D91219155

    BAB : Hubungan psikologi dengan Sosiologi, Pedagogik dan Agama.

    Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh
    Kami dari kelompok 6 akan sedikit menjelaskan materi tentang Hubungan Psikologi dengan Sosiologi, Pedagogik dan Agama.

    BalasHapus
  2. * Hubungan psikologi pendidikan dengan pedagogik
    Pedagogik sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa, bahkan cirri dan wataknya serta kepribadiannya ditunjukkan oleh psikologi. Dengan demikian, pedagogic baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi. Oleh karena itu sangat eratnya tugas antara keduanya, maka timbul educational psikologi (ilmu jiwa Pendidikan).

    * Tyas Pai: Hubungan psikologi pendidikan dengan agama
    Di dalam agama terdapat ajaran tentang bagaimana agar manusia mau menerima petunjuk Tuhannya, sehingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa di dalam agama itu penuh dengan unsur-unsur pedagogis yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Unsur pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia kecuali bilamana disampaikan kepadanya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi, dalam hal ini psikologi pendidikan.
    Contoh bahwa psikologi dan agama mempunyai hubungan erat dalam memberikan bimbingan manusia adalah terhadap manusia yang berdosa pada manusia yang melanggar norma tersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahirnya tidak diberikan terhadapnya.

    * Hubungan psikologi pendidikan dengan sosiologi
    Manusia sebagai makhluk social juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Karena itu, baik psikologi maupun sosiologi yang sama-sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik titik pertemuan di dalam meninjau manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup dalam bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kehijawaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Karena danya titik-titik persamaan ini, maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial.

    BalasHapus
  3. Dosen, Syaifuddin, 196911291994031003.

    Harap cantumkan identitas seperti di atas ^
    Sesuaikan dengan topik yang saya deskripsikan.
    Coba cek di sini:
    https://syaifuddin-mr.blogspot.com/2020/03/hubungan-psikologi-dengan-sosiologi.html

    BalasHapus
  4. Pemakalah, Zundatul An' Imah D01217137
    Assalamu alaikum wr.wb
    Disini saya perwakilan dari kelompok 6,mempersilahkan saudara untuk bertanya,menambahi atau menyangga dari materi makalah kami.
    Terima kasih

    BalasHapus
  5. Peserta, Muhammad Prayogi (D01217021)
    Assalamu alaikum wr wb.
    Pertanyaan, apasaja yg melatar belakangi perbedaan gender itu mbk, kok saya baca tadi kayak bukan biologis saja, mohon dijelaskan secara singkat saja, trimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemakalah, Zundatul An' Imah
      Bukan cuma biologis,bisa dari proses sosial dan budaya yang telah diperkenalkan sejak lahir. Misalnya: ketika terlahir bayi laki-laki,maka orang tua akan mengecat kamar bayi dengan warna biru, dihiasi dengan gambar mobil-mobilan dan pesawat,dan memberi mainan bola dkk.
      Jika terlahir bayi perempuan maka oramg tuanya akan mengecat kamar bayinya dengan warna pink dan menghiasinya dengan gambar hello kitty dkk.

      Hapus
  6. Peserta, Zakiyatul Muniroh (D91217075)
    Assalamualaikum wr wb. Saya mau bertanya, bagaimana cara menghilangkan steorotip masyarakat terhadap perempuan? Mengingat tindakan steorotip di Indonesia ini sudah seperti hal yang lumrah. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemakalah, Zundatul An' Imah
      Menurut kami, kebanyakan masyarakat sering kali menilai hal-hal yang terlihat didepan mereka.
      Sudah saatnya masyarakat lebih objektif dalam menerima steorotip yg hadir ditengah kehidupan bermasyarakat, diantaranya menanamkan rasa toleransi sejak dini,harus menyadari bahwa setiap individu terlahir dg keunikan tersendiri,saling menghargai terhadap perbedaan.

      Hapus
    2. Peserta, Joko Samudro Putro Penanggungan (D91217103)

      Bantu menjawab, cara mudah menghilangkan steorotip masyarakat terhadap Perempuan adalah dimulai dari diri kita sendiri, karena perubahan kecil akan membawa perubahan besar bagi lingkungan sekitar , maka dari itu penting bagi kita untuk selalu berfikir positif terhadap Perempuan sehingga memunculkan steorotip yang positive terhadap Perempuan.

      Thanks

      Hapus
  7. Wahyu Endah WidayantiRabu, 06 Mei, 2020

    Peserta,Wahyu Endah Widayanti (D01217032)
    Assalamualaikum
    Di makalah disebutkan bahwasannya Gender mengungkapkan bahwa pembentukan gender ditentukan oleh sejumlah faktor
    yang ikut membentuk, kemudian disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi melalui sosial atau kultural, dilanggengkan oleh interpretasi agama dan mitos-mitos seolah-olah telah menjadi kodrat laki-laki dan
    perempuan. Jadi bagaimana dengan perspektif feminisme itu ? Apakah feminissme itu kodrat atau bukan, karena yang saya tahu tidak hanya perempuan yang feminisme akan tetapi laki" ada yg bersifat dan bersifat Feminisme ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya elva novita sbg pemakalah mau menjawab pertanyaan dr wahyu
      menurut kami, femenisme buka suatu kodrat karena teori feminisme dapat dikatakan sebagai salah satu cabang teori sosial. Teori ini menggunakan perspektif feminisme untuk melihat dan menjelaskan fenomena sosial. Sering miskonsepsi terjadi dalam pemahaman teori ini. misalnya, melihat feminisme sebagai teori tentang perempuan. Sehingga dunia sosial yang terbentuk memposisikan perempuan secara marjinal. Kenyataan historis ini menciptakan jurang ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dimana yang satu didominasi dan yang lain mendominasi.

      Hapus
  8. Peserta, Siti Urifah (D01217029), mau bertanya, dalam makalah, Para guru kadangkala cenderung berpikir ke arah "self fulfilling prophecy" terhadap siswa perempuan, apa maksud dari self fulfilling prophecy dalam makalah tersebut?
    Trima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya elva novita sbg pemakalah mau menjawab :
      self fulfilling prophecy dlm psikologi artinya sugesti/ramalan yg terpenuhi oleh diri sendiri. maksud dari pandangan guru self fulfilling prophecy yaitu mereka menganggap siswa perempuan tdk memperoleh pendidikan yang tinggi yaitu guru berpikir seperti itu yang nantinya akan menjadi kenyataan karena guru yakin hal tersebut bisa terjadi,maksudnya memang benar2 terjadi kalau perempuan tidak memperoleh pendidikan yg tinggi

      Hapus
  9. Laila Nur RohmawatiRabu, 06 Mei, 2020

    Peserta, Laila Nur Rohmawati, NIM: D91217053
    Saya ingin bertanya pada kelompok 6 terkait kesetaraan gender.
    Dalam makalah tersebut menurut saya seakan-akan wanitalah yang menjadi korban dari adanya pembedaan gender. Akan tetapi yang saya ketahui di dunia nyata yg sekarang ini peran wanita sudah cukup banyak diberbagai profesi, bahkan mendominasi dari pada laki-laki seperti di sekolah, perkantoran, pekerja toko/restoran, bahkan lingkup pemerintahan. Apabila diadakan pembatasan bagi gender perempuan untuk membatasi hal tersebut apakah itu masih disebut diskriminasi?atau mungkin ada solusi lain dari pemakalah jika permasalahan tersebut terjadi?
    Terimakasih

    BalasHapus
  10. Peserta, Fera nur dian sari, D91217094.
    saya ingin bertanya, kesetaraan jender dalam pendidikan telah banyak dibahas dari tahun-ketahun, suatu kabar baik wanita telah mendapatkan porsi yg sepadan dengan kaum lelaki dalam pendidikan, namun dalam realitas pendidikan dikampus terlebih univ islam malah kuantitas wanita lebih banyak dari jumlah pria, hal ini apakah menunjukkan bahwa kesetaraan gender telah ideal? trmksh

    BalasHapus
  11. Peserta, rahmatul iqbal utama, D91217128
    Selamat sore pemakalah. Saya mau bertanya. Pengimplikasian kesetaraan gender di suatu lembaga pendidikan itu secara realnya seperti apa ya?
    Mungkin bisa diberikan contohnya. Dan sekaligus contoh problem yang menggambarkan diskriminasi gender di suatu lembaga pemdidikan itu seperti apa.?
    Terimakasih

    BalasHapus
  12. Peserta, Rosiana Nur Fadlilah (D91217069)
    Sebutkan upaya dilakukan pemerintah dalam mengatasi banyaknya diskriminisasi dalam persoalan gender selain terbentuknya hak asasi perempuan, meskipun telah terbentuknya hak asasi perempuan masih banyak terjasi diskriminisasi disekitar kita
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. elva novita sbg pemakalah mau menjawab pertanyaan dr rosiana
      beberapa upaya pemerintah untuk mengatasi diskriminasi
      1. Pendirian tempat-tempat konseling keluarga
      2. Kerja sama dengan pihak internal Gereja, pemerintah, maupun swasta untuk pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, maupun konseling
      3. Sosialisasi, pendampingan, dan pelatihan, kampanye
      4. Advokasi bagi para korban
      Pendataan TKI di dalam maupun luar negeri
      5. Pembentukan divisi perempuan dan anak

      Hapus
  13. Assalamualaikum saya mau bertanya
    Peserta, Aimmatuz Sa'adah, D91217036
    Dalam pembahasan kesetaraan gender didalam dunia pendidikan bahwa kebanyakan didalam kelas biasanya guru lebih mengedepankan anak perempuan daripada laki2 mengapa demikian dan berikan solusi agar guru bisa berlaku adil kepada murid perempuan dan laki2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peserta, Muhammad Rizky Adryan D91217118. Saya ingin membantu menjawab. Menurut saya hal seperti itu lumrah terjadi di sekolah, karena anak perempuan cenderung mudah diatur daripada laki2. Contoh saja saat kbm berlangsung selalu ada saja anak laki2 yang membuat gaduh di kelas dan membuat pandangan guru terhadap laki2 itu selalu membuat onar, maka dari itulah mungkin guru lebih memprioritaskan perempuan di kelas. Solusinya adalah siapapun anak itu baik laki2 ataupun perempuan ada baiknya selalu diperlakukan dengan adil dan guru tidak segan segan menegur lalu meluruskan apabila ada yang membuat suatu kesalahan baik itu di kelas maupun di luar kelas. Terima kasih

      Hapus
  14. Assalamualaikum wr wb
    Peserta, Muchammad Fahri Badruddin (D91217114)
    Saya mau bertanya, kebijakan apa yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah untuk mendukung konsep kesetaraan gender?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum wr wb
      Peserta, Alfin Maghfiroh (D91217081)

      Saya mau membantu menjawab pertanyaan mas Fahri, menurut saya, pemerintah telah membuat kebijakan untuk mendukung konsep kesetaraan gender, diantara dengan memasukkan kurikulum persamaan gender dalamdalam kuri KTSP maupun kurikulum 2013, selain itu pemerintah juga memasukkan persamaan gender pada mata pelajaran

      Hapus
  15. peserta, assalamualaikum saya mau bertanya menurut pemakalah di point doktrin ketidaksetaraan antara laki" dan perempuan pada no 5 yg mengenai kekerasan terhadap perempuan berupa kekerasan psikis. lantasa upaya apa yang dapat menamgani pelecehan seks pada perempuan? sedangkan jumlah pelecehan seks pada perempuan setiap tahunnya bertambah banyak?mohon penjelasannya

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum , saya menanyakan tentang marginalisasi terhadap perempuan, di makalah tersebut dijelaskan bahwa perempuan tidak dipercayai untuk memmimpin karena laki lakilah yang sejatinya tepat dan lebih baik untuk memimpin, hal ini juga yang sering menjadi stereotip masyarakat, apakah ini juga termasuk tidak menghargai kesetaraan gender? Dan bagaimana sikap kita dengan adanya steorotip tersebut dalam pendidikan maupun dilingkungan kita!

    BalasHapus
  17. Peserta, Atiyatur Rohmah Mumtazah D01217009. Bagaimana pendapat pemakalah tentang kesenjangan gender dalam pendidikan pada point nmr3, padahal sudah jelas saat ini bahwa murid perempuan yang bisa dikatakan lebih unggul dari pada murid laki" tapi kenapa dalam point tersebut murid perempuan dikatakan masih bisa diperlakukan tidak adil? bagaimana penjelasannya!
    Terimakasih 🙏🏻

    BalasHapus
  18. Peserta. Ananda kurniawati (D91217041)

    Bagaimana pendapat makalah apabila terdapat perempuan yang melecehkan laki2? Apakah hal tersebut bisa dikenakan hukum? Apakah ada hukum yang mengatur tentang hak laki2?

    BalasHapus
  19. Peserta, Isma Wahyu Nihayah, D91217052

    Ada berbagai problem terkait kesetaraan gender, mulai dari subordinasi terhadap perempuan, marjinalisasi terhadap perempuan, dan lain-lain. Langkah apa saja yang dapat kita lakukan untuk mencegah adanya ketidakadilan terebut? Terima kasih..

    BalasHapus
  20. Puja Atma RidlwanaRabu, 03 Juni, 2020

    peserta, Puja Atma Ridlwana (D91217065)
    mohon maaf ijin untuk bertanya.
    Ibu Sri Mulyani pernah menjadi pembicara dalam acara "Ring the Bell for Gender Equality" atau "Membunyikan Bel untuk Kesetaraan Gender" dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional. Dia berkata bahwa "Jika Anda lihat, ketimpangan gender tidak hanya pada tingkat partisipasi tapi juga pada besaran gaji. Perempuan menerima gaji 32% lebih rendah ketimbang laki-laki. Jadi itu artinya perempuan digaji lebih sedikit." Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah di kesetaraan gender dalam pendidikan gaji antara perempuan dan laki-laki sama? Jikapun terjadi adanya perbedaan, bukankah itu menjadi diskriminasi gender.. Padahal dalam makalah tersebut disebutkan bahwa "Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya
    diskriminasi antara perempuan dan laki-laki."
    Terimakasih.

    BalasHapus